Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blog Design :
Silahkan Download

Powered by Blogger

BISNIS PULSA dengan banyak keuntungan. 100% Dijamin UNTUNG. klik DISINI" ...!!
Tampilkan postingan dengan label Kecelakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecelakaan. Tampilkan semua postingan

[ Selasa, 24 Maret 2009 ]
TOKYO - Seharian kemarin (23/3), 19 orang tewas dalam dua kecelakaan pesawat terbang yang terjadi hampir bersamaan di Tokyo, Jepang, dan Montana, Amerika Serikat (AS). Di Tokyo, pilot dan kopilot pesawat milik perusahaan kargo FedEx tewas setelah terempas di Bandara Internasional Narita kemarin pagi. Sedangkan di Montana, 17 orang -12 di antaranya anak-anak- tewas setelah pesawat turboprop bermesin tunggal yang mereka naiki gagal mendarat dan terbakar pada jarak 200 meter dari Bandara Bert Mooney.

Cuplikan rekaman yang disiarkan jaringan televisi Jepang NHK memperlihatkan pesawat FedEx berjenis MD-11 buatan McDonnell Douglas, bagian dari Boeing Company, terpelanting ke udara sesaat setelah roda menyentuh jalur pendaratan. Pesawat tua berbadan lebar itu lalu terjatuh ke sisi kanan jalur perlintasan yang diduga karena terdorong embusan angin kencang. Badan pesawat kemudian terseret dengan kecepatan tinggi yang mengakibatkan munculnya bola api besar. Pesawat berhenti dalam keadaan terbalik, menyemburkan asap hitam tebal ke udara. 

Petugas PMK, tim SAR, dan tenaga medis Bandara Narita dengan cepat mendatangi lokasi terbakarnya pesawat. Saat proses evakuasi, regu penyelamat menemukan hanya ada dua orang penumpang pesawat. Keduanya, pilot Kevin Kyle Mosley, 54, dan kopilot Anthony Stephen Pino, 49 , tewas. Dari catatan Badan Penerbangan Federal AS (Federal Aviation Administration) Mosley berasal dari Hillsboro, Oregon, sedangkan Pino adalah warga San Antonio, Texas. 

Apa yang menyebabkan pesawat FedEx yang terbang dari Guangzhou, Tiongkok, tujuan Tokyo itu terpelanting? Kazuhito Tanakajima, pejabat keselamatan penerbangan dari Kementerian Transportasi Jepang, menyatakan bahwa dugaan sementara, turbulensi level rendah atau populer disebut ''guntingan angin'' yang menyebabkan pesawat terbanting ke lintasan pendaratan. 

Dugaan itu muncul setelah Badan Meteorologi Jepang melaporkan, kecepatan angin saat insiden itu terjadi adalah 76 kilometer per jam. ''Ini adalah kecepatan angin yang tidak biasa di sekitar Narita,'' ujar Tanakajima. 

Selain itu, dari peta angin terlihat ada pergerakan udara dengan kecepatan lebih rendah sekitar 20 km per jam di permukaan bandara. ''Perbedaan kekuatan dan arah angin itulah yang memicu turbulensi dan menyebabkan pesawat sulit berada pada jalurnya,'' jelas Tanakajima. 

Kondisi alam yang sama juga memicu terjadinya guncangan di udara pada pesawat dari Filipina bulan lalu. Insiden itu menyebabkan 50 penumpang dan kru terluka. 

Pihak FedEx menyatakan akan ikut bergabung dengan tim investigasi untuk memastikan penyebab kecelakaan pesawatnya. ''Kami akan terus memantau perkembangan penyelidikan dengan pemerintah,'' ujar Misuho Fukuda, juru bicara wanita perusahaan di Tokyo. Akibat insiden itu, semua pengiriman dokumen ke Tokyo oleh FedEx ditunda kemarin. 

Bulan lalu FedEx menghabiskan dana USD 150 juta untuk membuka kantor layanan terbesar di Asia-Pasifik di Guangzhou. Sandra Munez, juru bicara FedEx di kantor pusat AS, menyatakan bahwa perusahaan akan mengganti semua kerusakan dokumen per klaim individu secepatnya. ''Begitu pemerintah Jepang membolehkan kami bertindak, kami langsung mengontak pelanggan dan mengurus kerugian mereka,'' ujarnya.(Rtr/CNN/AP/kim) 

[ Senin, 23 Maret 2009 ]
KARANG BARU - Kecelakaan beruntun terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) di ruas Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, sekitar pukul 10.30 Minggu kemarin (22/3). Kendaraan yang terlibat kecelakaan adalah Kijang Inova, L300, Toyota Corona, dan Yamaha Jupiter.

Kecelakaan itu menyebabkan keempat kendaraan tersebut ringsek dan enam korban luka berat. Jumiran, sopir Toyota Corona, menjelaskan bahwa dirinya bersama keluarga dalam perjalanan menuju ke Langsa dari Pangkalan Susu, Aceh Tamiang.

Di belakangnya melaju kencang L300. Persis di tanjakan Bukit Tinggi, mobil itu berusaha mendahului. Saat bersamaan, muncul Kijang Inova dari arah berlawanan yang mendahului mobil di depannya.

Kedua mobil itu pun bertabrakan. Jumiran tidak bisa menghindar, menabrak bagian belakang L300 yang terhenti setelah tabrakan. ''Kijangnya sempat berputar dan jatuh ke tepi jalan,'' katanya. 

Sebelumnya, Kijang itu sempat menghantam sepeda motor yang melaju di tepi jalan. Sepeda motor itu sampai terlempar ke semak di pinggir jalan beserta pengendaranya. (dai/jpnn/ruk)

[ Jum'at, 27 Februari 2009 ]
SIDOARJO - Kecelakaan lalu lintas terjadi di jalan tol Km 19,800 arah Porong, Sidoarjo, kemarin (26/2). Bus Restu jurusan Surabaya-Blitar terguling saat mencoba menyalip truk trailer dari bahu jalan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Menurut Kasatlantas Polres Sidoarjo AKP Iwan Saktiadi, kecelakaan terjadi pukul 16.15. Saat itu, Bus Restu bernopol W 6381 FU melaju ke arah Porong. Kecepatannya sekitar 60 km/jam. ''Bus saat itu berpenumpang penuh,'' katanya. Jumlah penumpang diperkirakan 50 orang. Sebab, bus baru keluar dari Teminal Purabaya dan langsung masuk jalan tol. 

Sesampai di Km 19,700, Denny Cahyo, pengemudi bus asal Desa Ngebruk, Kecamatan Sumber Pucung, Malang, mencoba menyalip truk trailer di depannya. Tapi, dia ingin menyalip dari arah kiri alias bahu jalan. ''Karena bahu jalan kosong, dia berani melakukan itu,'' jelasnya. 

Saat separo badan bus sudah menyalip bagian belakang truk, tiba-tiba truk tersebut oleng ke kiri. Denny terkejut dan langsung membanting setir ke kiri. Entakan yang tiba-tiba membuat bus kehilangan keseimbangan. ''Akibatnya, bus langsung terguling ke luar badan jalan,'' ungkap Iwan. 

Penumpang dalam bus pun panik. Mereka berebut keluar secepatnya. Ada yang lewat pintu, ada juga yang lewat kaca depan yang telah hancur berantakan. Sebagian lagi memecah kaca samping bus. 

Para penumpang yang berhasil keluar langsung mencegat bus lain yang melintas di tol tersebut. Beberapa pengendara yang menyaksikan kecelakaan tersebut ikut menolong. Mereka mengantarkan penumpang yang luka-luka ke rumah sakit, termasuk Denny yang terluka di bagian pelipis mata. 

Kecelakaan tersebut membuat lalu lintas di jalan tol arah Porong sedikit merambat. Petugas Satlantas Polres Sidoarjo dan PJR Surabaya tiba di lokasi beberapa saat setelah kejadian. 

Pukul 16.40, truk derek tiba di lokasi kecelakaan. Tanpa kesulitan, bus yang terguling itu langsung dievakuasi. Pukul 16.50, bus berhasil dibawa ke tepi jalan. Kondisinya ringsek, kaca depan pecah, dan bodi pesok-pesok.

Kanitlaka Satlantas Polres Sidoarjo Iptu Mujiatin mengaku sedang mengembangkan pemeriksaan. Tadi malam, Denny Cahyo akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Dia dianggap lalai karena menyalip truk dari sebelah kiri. ''Tapi, sidangnya nanti hanya mengarah pada ganti rugi material. Sebab, tidak ada korban yang meninggal,'' ucapnya. (riq/nuq/oni)
JUMAT, 27 FEBRUARI 2009 | 04:43 WIB
Pesawat penumpang yang dioperasikan oleh Turkish Airlines jatuh saat akan mendarat di Bandar Udara Schiphol di Amsterdam, Belanda, Rabu (25/2). Badan pesawat terbelah menjadi tiga bagian di sebuah lapangan di dekat bandara.
 

AMSTERDAM, KAMIS - Para penyelidik terus bekerja untuk mencari tahu penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737-800 milik maskapai Turkish Airlines saat akan mendarat di Bandar Udara Schiphol, Belanda. Ahli penerbangan menyebut perihal terjadinya ”keajaiban” karena tidak banyak korban tewas meskipun badan pesawat terpotong menjadi tiga bagian.

Pemimpin Otoritas Keselamatan Belanda Pieter van Vollenhoven mengatakan, kemungkinan pesawat naas itu kehilangan kecepatan sebelum jatuh. ”Oleh karena kurangnya kecepatan, pesawat bisa jatuh dari langit,” katanya, Kamis (26/2).

Pesawat Turkish Airlines bernomor penerbangan TK 1951 itu jatuh di lapangan sekitar 500 meter dari landasan. Sebanyak 9 orang tewas, di antaranya dua pilot dan seorang pilot magang. Lebih dari 80 orang luka-luka. Pesawat yang mengangkut 127 penumpang dan 7 awak pesawat itu berangkat dari Istanbul, Turki, dengan tujuan Belanda.

Perekam data penerbangan dan rekaman suara telah ditemukan dan dikirim ke Paris, Perancis. Analisis data itu akan memakan waktu beberapa hari.

Juru Bicara Dewan Keselamatan Belanda Fred Sanders mengatakan, para penyelidik akan mengeksplorasi berbagai kemungkinan penyebab kecelakaan, mulai dari faktor cuaca, kekurangan bahan bakar, kesalahan navigasi, kelelahan pilot, hingga gangguan burung.

”Ini benar-benar hancur. Bahwa begitu banyak orang bisa berjalan keluar (dari pesawat) benar-benar mengagumkan. Beberapa orang menyebutnya keajaiban,” kata Sanders.

Salah satu faktor kecilnya jumlah korban adalah tidak adanya api dalam kecelakaan itu. ”Mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa pesawat jatuh di tanah berlumpur, bukan jalan beton atau jalur landasan yang akan meningkatkan peluang kebakaran,” ujar Sanders.

Pesawat itu tampaknya jatuh pada sudut lurus. Hal itu, menurut Sanders, mengindikasikan bahwa pesawat kehilangan momentum maju dan tak ada fungsi motor.

Ketika pendaratan, cuaca dilaporkan berkabut dan berangin disertai gerimis. Jarak pandang dilaporkan bagus, sekitar 4.500 meter.

Identifikasi

Joe Mazzone—mantan pilot Delta Air Lines yang ikut mendengarkan komunikasi antara petugas kontrol lalu lintas dan pesawat—mengatakan, tidak ada hal yang tidak normal. Sebelum akhir dari rekaman selama 52 detik, hal terakhir yang terdengar adalah petugas kontrol memberi frekuensi menara kepada pilot dan memberikan izin untuk mendarat.

Petugas medis dan petugas penyelamat juga bekerja mengidentifikasi korban tewas. Selain ketiga awak kokpit, korban lainnya belum diidentifikasi.

Sebanyak enam orang yang cedera dalam kondisi kritis, 25 orang luka parah, dan 24 orang luka ringan. Korban selamat dirawat di 13 rumah sakit berbeda, termasuk rumah sakit darurat yang didirikan militer di pusat kota Utrecht.

Duta Besar Turki untuk Belanda Selahattin Alpar kepada kantor berita Turki, Anatolia, mengatakan, ada 72 warga negara Turki dan 32 warga negara Belanda yang ikut dalam penerbangan TK 1951. Empat orang pegawai Boeing juga turut dalam penerbangan tersebut. (ap/afp/reuters/fro)


[ Kamis, 26 Februari 2009 ]
Pesawat Turkish Airlines Mendarat Keras di Lapangan Berlumpur
AMSTERDAM - Pesawat Turkish Airlines (THY) dengan 135 penumpang mendarat keras di lapangan berlumpur. Kecelakaan itu terjadi ketika pesawat Boeing 737-300 tersebut akan landing di Bandara Schiphol, Amsterdam, kemarin siang. Sembilan penumpang tewas dan lebih dari 50 orang luka-luka, separonya luka berat. Penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan. 

Pesawat dengan nomor penerbangan TK 1951 tersebut patah menjadi tiga bagian. Badan pesawat patah di dekat kokpit dan ekornya juga tak utuh lagi. Salah satu mesin lepas, tergolek dalam keadaan rusak sekitar 200 meter dari bangkai pesawat. 

Pesawat Turk Hava Yollari (THY) atau Turkish Airlines yang nahas itu terbang dari Bandara Ataturk, Istanbul, pada pukul 08.22 waktu setempat (03.22 WIB) menuju Amsterdam. Justru ketika detik-detik menentukan saat kedatangan, pukul 11.00 waktu Amsterdam (17.00 WIB), pesawat itu jatuh di dekat bandara utama Belanda tersebut. 

Meskipun menyebabkan korban tewas dan luka-luka, Menteri Transportasi Turki Binali Yildirim menyebut tragedi itu ''keajaiban'' karena tak terjadi lebih banyak lagi korban. ''Faktanya, pesawat mendarat di permukaan lunak dan tak ada kebakaran sehingga jumlah korban sedikit,'' katanya. 

Salah seorang penumpang selamat, Huseyin Sumer, mengisahkan bahwa dirinya harus merangkak melewati sela-sela patahan pesawat. ''Kami akan mendarat. Kami tak paham atas apa yang terjadi. Beberapa penumpang memekik panik, tapi terjadinya terlalu cepat,'' kata Sumer kepada TV Turki, NTV. Dia menyebutkan, kecelakaan itu terjadi 5-10 menit.

Dubes Turki di Belanda Selahattin Alpar menyebutkan, 72 penumpang orang Turki dan 32 orang Belanda. Tak disebutkan kebangsaan 31 orang lain. Di antara 135 penumpang itu, 7 orang kru pesawat. Kedutaan Besar RI di Belanda juga mencari kemungkinan korban WNI. Meskipun, warga RI yang berinteraksi dengan Turki sedikit. 

Apa penyebab kecelakaan itu? Ketika dokumen pesawat dicek, maintenance pesawat tak ada masalah. 

CEO Turkish Airlines Temel Kotil mengatakan, sang kapten pilot, Hasan Tahsin, sangat berpengalaman dan mantan penerbang angkatan udara. Pesawatnya dibuat pada 2002 dan terakhir maintenance pada 22 Desember atau dua bulan lalu.

Ketentuan untuk membawa bahan bakar cadangan dipenuhi. Bahan bakar cadangan itu harus cukup untuk 45 menit penerbangan, yakni bila dalam keadaan khusus harus mendarat di bandara selain tujuannya. Sedangkan faktor terorisme juga dikesampingkan.(AP/AFP/roy)
[ Kamis, 19 Februari 2009 ]
MUARA ENIM - Niat mulia rombongan suster untuk melayat ke salah satu rekan yang ayahnya meninggal dunia berakhir memilukan. Mobil Kijang kapsul 1997 warna merah nopol T 1756 DC yang mengangkut rombongan sembilan suster biarawati Rumah Sakit Charitas, Palembang, itu terjun ke Sungai Lubai di Muaraenim, Sumatera Selatan (Sumsel) yang sedang berarus deras kemarin pagi sekitar pukul 06.00. 

Palembang Pos (Jawa Pos Group) melaporkan, mobil Kijang dan seluruh penumpangnya langsung tenggelam di sungai sedalam 6 meter itu. Delapan suster dan sopirnya tewas di lokasi kejadian. Sedangkan seorang suster bernama Silvetra kritis dan dirawat di RSU Kota Prabumulih sebelum dirujuk ke RS Charitas, Palembang. 

Berdasar data dari RS Charitas, delapan suster yang tewas adalah Suster Yose, Suster Avrela, Suster Epila, Suster Germanda, Suster Mariana, Suster Penita, Suster Benieta, dan Suster Lavrensiana. Sedangkan sopir yang tewas bernama Yanto, 34, warga Lebung Siarang, Palembang. 

Para korban itu berhasil dievakuasi petugas Polantas Polres Muara Enim dibantu puluhan warga desa. Delapan korban yang ditemukan tewas dibawa ke Puskesmas Beringin, sekitar 500 meter dari lokasi kejadian. 

Dua korban lainnya, Lavrensiana dan Silvivestra -karena saat dievakuasi dalam kondisi kritis- dibawa ke RS Kota Prabumulih untuk mendapatkan perawatan. Sayang, dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, nyawa Lavrensiana tidak tertolong. Sedangkan Silvivestra, meski kondisinya kritis, masih bisa bertahan dan langsung dirujuk ke RS Charitas.

Dokter Puspa dari Puskesmas Beringin yang sempat menangani delapan korban tewas mengatakan, para korban diduga meninggal akibat mengalami asfiksia karena tenggelam ke dasar sungai bersama mobilnya. ''Saat dibawa ke puskesmas, kondisi mulut dan hidung korban mengeluarkan busa karena lama terendam air,'' ujarnya. Korban yang mengalami luka di bagian tengkorak dan patah kaki hanya dua orang. 

Berdasar informasi yang dihimpun, rombongan suster nahas itu berangkat dari RS Charitas, Palembang, saat hari masih gelap, sekitar pukul 04.30. Mereka menyewa mobil Kijang milik Muliadi, 38, karyawan administrasi RS Charitas dan dikemudikan Yanto, teman pemilik mobil. 

Tujuan para suster itu adalah melayat orang tua Suster Benieta di Desa Banu Ayu, Martapura, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Suster Benieta juga ikut dalam mobil tersebut untuk melihat orang tuanya yang meninggal. Mobil yang dipenuhi sembilan suster itu kemudian melaju dari arah Kota Prabumulih menuju Baturaja, OKU. Dalam perjalanan, kondisi cuaca hujan gerimis dan jalanan basah. 

Karena jalanan masih sepi, sopir memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Sesampai di lokasi kejadian, sopir diduga mengantuk sehingga tidak memperhatikan jalan yang menikung tajam ketika hendak masuk jembatan. Seharusnya belok, mobil Kijang itu justru melaju lurus dan bablas terjun dari jembatan yang tingginya sekitar 6,8 meter itu.

Mudahnya mobil terjun ke sungai itu juga disebabkan sejak beberapa bulan belakangan pagar jembatan rusak. Jembatan yang panjangnya 12 meter itu tidak berpagar lagi di kedua sisinya. Ketika ditemukan warga, posisi roda mobil berada di atas dan bagian atap tenggelam ke dasar sungai. 

Jufri, 42, penduduk setempat yang rumahnya sekitar 50 meter dari lokasi kejadian, mengatakan, mereka mendengar suara keras saat kecelakaan tersebut. Tak berapa lama warga pun mengevakuasi dan melaporkan kejadian kepada aparat kepolisian. Mobil yang semula rodanya di atas dibalikkan kembali guna mengambil korban dari dalam mobil. Kemudian, mobil tersebut diikat warga agar tidak hanyut terseret derasnya arus air sungai. Setelah korban berhasil dievakuasi, mobil tersebut diangkat dengan menggunakan mobil derek. 

Kasatlantas Polres Muara Enim AKP Ahmad Pardomuan di lokasi kejadian mengatakan, kecelakaan diduga sopir mengantuk dan berjalan dengan kecepatan tinggi. ''Menjelang masuk jembatan telah dipasang rambu-rambu karena kondisi jalan tersebut memang rawan kecelakaan. Namun, karena ngantuk, peringatan itu diabaikan,'' ujarnya. Penyebab lainnya, dinding jembatan rusak sehingga tidak ada yang menghambat mobil ketika terjun. 

Petugas Jasa Raharja Muara Enim Roi Silalahi mengatakan, pihaknya secepatnya akan memberikan dana klaim santunan asuransi kepada korban yang meninggal dunia. Santunan tersebut akan diberikan paling lama tujuh hari sejak kejadian. Uang santunan korban meninggal dunia Rp 25 juta. Sedangkan korban yang mengalami luka berat mendapat santunan Rp 10 juta per orang. (luk/jpnn/kim)
  Berita Utama
[ Selasa, 17 Februari 2009 ]
LONDON - Teknologi canggih dan jalur sangat luas tak menjamin dua kapal selam kalis dari insiden tabrakan. Seperti yang dialami dua kapal selam canggih milik Inggris dan Prancis. Kedua kendaraan tempur bawah laut itu bertabrakan di Samudera Atlantik awal bulan ini. Kekhawatiran sempat menyeruak karena keduanya bertenaga dan membawa senjata nuklir.

Mengutip CNN, kejadian pertama dalam sejarah itu berlangsung di lautan lepas pada tengah malam antara 3 dan 4 Februari lalu. HMS Vanguard milik Inggris dan Le Triomphant dari Prancis yang mengangkut total 250 pelaut sedang menyelam dalam misi berbeda. Sumber di AL Prancis mengatakan, Le Triomphant sedang dalam perjalanan pulang dari misi patroli 70 hari di Atlantik saat tabrakan terjadi.

Setelah bertabrakan dahsyat di dasar laut, kedua kapal selam itu mengalami kerusakan vital. Namun, yang melegakan, sejauh ini tak ada laporan kerusakan pada instrumen nuklir dari kedua kapal tempur tersebut. "Kecelakaan ini tak mencederai kru dan tak membahayakan keamanan nuklir hingga saat ini," ujar pejabat Departemen Pertahanan Inggris saat dikonfirmasi harian The Sun. Meski untuk sementara disimpulkan tak ada ancaman membahayakan, penyelidikan tetap dijalankan oleh kedua negara.

Kapal Inggris telah ditarik ke Faslane di Skotlandia untuk perbaikan. Sedangkan Le Triomphant masih di Atlantik karena sedang dilakukan perbaikan perangkat sonar yang rusak total. "Sonar tersebut seharusnya bisa mendeteksi Vanguard. Namun, seluruh kru yang jumlahnya 101 mengatakan tak melihat atau mendengar apa pun," ujar pejabat AL Prancis. 

HMS Vanguard yang beroperasi sejak 1992 adalah kapal selam tertua pembawa senjata nuklir SSBN (Ship Submersible Ballistic Nuclear) milik Inggris. HMS Vanguard adalah salah satu dari empat kapal sejenis di AL Inggris yang membawa senjata nuklir.

Sedangkan Le Triomphant yang diluncurkan pada 1994, merupakan salah satu dari empat kapal selam kelas Triomphant yang dimiliki AL Prancis. Kapal itu membawa 16 M51 SLBM (submarine-launched ballistic missiles). 

Kedua kapal itu mengusung teknologi terkini dalam penginderaan kapal selam lain. Namun, sistem tersebut agaknya gagal total saat kecelakaan. Setiap kapal panjangnya 150 meter dan lebar 13 meter serta mampu membawa sampai 48 hulu ledak nuklir pada maksimal 16 rudal. 

Lembaga The Campaign for Nuclear Disarmament atau Kampanye Perlucutan Nuklir menggambarkan tabrakan dua kapal selam nuklir tersebut merupakan mimpi buruk nuklir yang "paling tinggi tingkatnya". "Keduanya memiliki reaktor nulir dan senjata nuklir di atas kapal, bisa melepaskan radiasi dalam jumlah besar dan menyebarkan hulu ledak nuklir di dasar laut," kata Kate Hudson, Ketua The Campaign for Nuclear Disarmament kepada BBC. 

Departemen Pertahanan Inggris tidak mau mengomentari laporan ini, tetapi menegaskan bahwa tidak ada keamanan nuklir yang dilanggar.

BBC melaporkan, HMS Vanguard dengan kerusakan seperti bengkok dan tergores yang jelas terlihat, harus ditarik kembali ke pangkalannya di Faslane, Firth of Clyde. 

Kedua kapal selam ini adalah bagian penting dari upaya masing-masing negara dalam persenjataan nuklir dan seharusnya membawa rudal-rudal, walaupun Perancis dan Inggris sama-sama menegaskan bahwa tidak ada bahaya terjadinya kecelakaan nuklir. (AP/Rtr/kim)
 
  Berita Utama
[ Kamis, 12 Februari 2009 ]
DUBAI-Api dan asap menggila setelah kapal tanker minyak dan kapal kontainer bertabrakan di pantai Dubai di Teluk Persia, Selasa siang (10/2). Tak ada yang meninggal dalam kecelakaan ini, namun dua awak terluka. Aparat masih menyelidiki kecelakaan ini, namun diduga karena para nakhoda tidak bisa melihat jelas akibat kabut pekat.

Kecelakaan terjadi di dekat Pelabuhan Jebel Ali, pelabuhan utama di Dubai. Kapal tanker nahas itu, Kashmir, berbedera Malta. Tanker itu memuat 30 ribu ton minyak dari Iran ke Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Sedangkan kapal kontainer lawannya, Sima Baba berbendera Singapura. Kapal ini merupakan pengangkut lanjutan untuk membawa kontainer-kontainer barang ke pelabuhan lebih kecil. Kontainer itu berisi cairan bahan plastik. 

Baik Kashmir maupun Sima Baba rusak berat akibat tabrakan ini. Yang parah adalah bagian lambung tanker Kashmir. Minyaknya langsung terbakar dan membuat asap hitam pekat. Sedangkan kapal kontainer itu terbakar bagian depan samping. Kebakaran ini turut merusak beberapa kontainer yang diangkutnya.

''Bagi saya, ini mengerikan. Tampaknya seperti api yang sangat besar,'' kata Leslie Cameron, pilot pesawat carter Seawings yang terbang di atas lokasi kecelakaan dan memotret kedua kapal. Dia juga melihat ada cairan mencurigakan yang tumpah serta terbakar. 

Menurut Sarah Lockie, juru bicara pengelola pelabuhan DP World, kedua kapal yang kecelakaan juga sudah disingkirkan dari jalur lalu lintas laut, sehingga arus kembali normal.(BBC/AFP/EPA/roy)