Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blog Design :
Silahkan Download

Powered by Blogger

BISNIS PULSA dengan banyak keuntungan. 100% Dijamin UNTUNG. klik DISINI" ...!!
Tampilkan postingan dengan label Ponari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ponari. Tampilkan semua postingan

  Berita Utama
[ Kamis, 12 Februari 2009 ]
JOMBANG - Penutupan praktik Ponari di Jombang, Jawa Timur, dua hari lalu tidak menyelesaikan masalah. Ribuan pengunjung masih keras kepala mendatangi kediaman dukun cilik yang tinggal di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, itu kemarin (11/2). Itu membuat repot petugas keamanan dari Polres Jombang.

Radar Mojokerto (Jawa Pos Group) melaporkan, poster pengumuman penutupan praktik yang dipasang di beberapa sudut jalan seakan dianggap tidak ada oleh pengunjung dari berbagai kota di Jawa itu. Sambil membawa gelas plastik, mangkuk, hingga ember, mereka tetap menunggu. Dengan harapan, panitia kembali membuka praktik pengobatan alternatif tidak lazim itu. ''Kata orang-orang, Ponari ada di rumah. Siapa tahu nanti dia buka praktik kembali,'' ujar Cakim, salah seorang pengunjung dari Karawang, Jawa Barat.

Konsentrasi massa yang tak kunjung menyusut memaksa Polres Jombang mengambil tindakan. Sekitar pukul 14.00, Polres Jombang mengerahkan satu truk personel dalmas beserta jajaran reskrim dan intelkam. Dipimpin Wakapolres Jombang Kompol Deden Supriyatna Imhar, petugas membentuk pengamanan berlapis di tempat praktik Ponari. Tindakan itu sebagai antisipasi jika ribuan orang tersebut bersikeras masuk dan memaksa Ponari melakukan pengobatan.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Menjelang sore, massa semakin bertindak tidak rasional. Mereka menyerbu bilik pompa air tak jauh dari rumah Ponari. Hal itu diawali isu bahwa Ponari baru saja mandi di tempat tersebut. Massa berebut air dari pompa air tersebut. 

Sekitar pukul 15.00, polisi membuka pintu masuk ke tempat praktik Ponari. Maksud awalnya, petugas yang dipimpin Kompol Deden memberikan pengertian kepada massa untuk meninggalkan lokasi. 

Namun, ketika Kompol Deden membacakan pengumuman, ratusan orang malah merangsek hingga membentuk lingkaran. Begitu mendengar kata-kata ''ditutup'', massa semakin gusar. 

Sahut-menyahut teriakan terdengar yang isinya menentang penutupan itu. Ada berbagai alasan yang mereka lontarkan. Di antaranya, pengobatan itu merupakan berkah bagi orang miskin, atau bentuk pertolongan dari Tuhan. Bahkan, sejumlah orang tidak percaya bahwa Ponari sakit karena si bocah itu justru yang bisa menyembuhkan orang sakit. 

Situasi pun semakin panas. Apalagi setelah seorang ibu mendatangi Wakapolres sembari mengamuk. Dia mengaku sudah berhari-hari menginap di sekitar tempat Ponari, tapi belum juga mendapatkan pengobatan. Ibu itu mengaku sudah kehabisan bekal. Melihat reaksi si ibu, massa pun semakin emosi hingga nyaris terjadi kericuhan. 

Akhirnya, dengan pertimbangan keamanan, petugas memutuskan untuk melayani pengobatan. Tetapi, itu hanya dikhususkan pengunjung yang telah mendapatkan kupon. ''Kami akan membuka kembali pengobatan, asalkan Bapak Ibu bisa tertib!" tegas Wakapolres.

Kapolres Jombang AKBP Khosim yang dikonfirmasi soal tindakan anak buahnya di lapangan kemarin mengatakan, polisi terpaksa membuka kembali praktik pengobatan Ponari bagi mereka yang telah memiliki kupon saja. ''Toleransinya hari ini (kemarin, Red) yang terakhir. Yang tidak memiliki kupon tidak dilayani dan besok (hari ini, Red) akan ditutup total,'' tegasnya.

Meskipun membuka kembali pengobatan Ponari secara terbatas, persiapan penutupan praktik dukun cilik Ponari yang telah menelan empat korban tewas itu tetap dilaksanakan Polres Jombang. Ketika kericuhan nyaris terjadi di kediaman Ponari, petugas satlantas mulai melakukan blokade. Kedua jalur masuk ke Dusun Kedungsari ditutup bagi seluruh pengunjung. Hal itu dilakukan agar tidak terus terjadi penumpukan. ''Keputusannya sudah bulat bahwa tempat praktik ini ditutup. Karena itu, kami terus berjaga untuk menutup arus,'' jelas Kasatlantas AKP Siswanto melalui Kaur Bin Ops Iptu Achmadi. 

Ponari Terpenjara 

Walaupun praktif pengobatan alternatif yang memanfaatkan dirinya sudah dihentikan, Ponari belum sepenuhnya bebas. Seharian kemarin Ponari belum bisa beraktivitas normal seperti semula. Ponari yang bolos sekolah sejak 19 Januari lalu bahkan belum kunjung bersekolah. Bahkan, untuk sekadar bermain bersama teman-teman sekampung pun, siswa kelas III SD itu belum bisa. 

Penyebabnya, ribuan pengunjung masih saja memadati rumahnya hingga kemarin. Dengan demikian, tidak mungkin Ponari bebas bepergian. ''Sepertinya hingga dua atau 3 hari ke depan dia belum berani keluar rumah,'' ungkap Kepala SDN Balongsari II Miharso ketika ditemui di kantornya kemarin.

Sebetulnya bukan hanya Ponari yang tersiksa oleh kedatangan ribuan orang itu. Ratusan siswa-siswi SDN Balongsari II tempat Ponari belajar juga sangat terganggu. 

Sejak praktik Ponari didatangai warga dari berbagai penjuru kota, ratusan orang keleleran memenuhi halaman sekolah. Termasuk di lantai depan kelas-kelas. Karena situasi yang hiruk pikuk, proses belajar mengajar di sekolah itu sulit dijalankan dengan normal. Akibatnya, pihak sekolah terpaksa memulangkan seluruh siswa sebelum waktunya, sekitar pukul 10.00. ''Tetapi, sebelumnya kami sudah izin kepada pihak pengawas TK dan SD,'' jelas Miharso.

Terkait penutupan tempat praktik, Miharso menyambut dengan positif. Sebab, sejak tempat praktik itu dijubeli puluhan ribu orang, Ponari sudah tidak bisa bersekolah. Perjalanan siswa dan guru menuju ke sekolah pun terganggu. Setiap pagi mereka terjebak kemacetan di antara para pengunjung Ponari. 

Miharso berharap, penutupan itu bisa menjadi jalan yang terbaik. Meskipun, dia juga merasa prihatin apabila banyak orang sakit yang tidak terlayani. ''Kami menyerahkan kepada pihak muspida saja, bagaimana keputusan yang terbaik,'' katanya.

Absennya Ponari di kelas juga membuat sedih teman-temannya. Bocah 10 tahun itu dikenal biasa-biasa saja. Tidak ada yang menonjol dari siswa bertubuh kurus itu. Baik dalam prestasi akademis maupun perilakunya selama di sekolah. Namun, di mata teman-temannya, Ponari dikenal sebagai siswa yang baik.

Kiki, salah seorang teman sekelas Ponari, mengaku kangen. Sudah sekitar tiga minggu ini Kiki tidak bisa bertemu dengan Ponari. ''Dia anaknya baik, lucu, dan tidak nakal,'' ujarnya. 

NU-Muhammadiyah Prihatin 

Antusiasme masyarakat datang berobat ke dukun cilik Ponari mengundang keprihatinan ormas Islam, terutama Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Pengurus Wilayah (PW NU) dan PW Muhammadiyah Jawa Timur mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya jika memang tidak dapat dibuktikan manfaatnya.

Wakil Katib Syuriah PW NU Jawa Timur KH Abdurrahman Nafis menilai, peristiwa di Jombang itu membuktikan bahwa masyarakat masih lemah moral dan ekonomi. Masyarakat diminta tidak lantas percaya sampai menimbulkan syirik. ''Mungkin saja Ponari itu diberi kelebihan. Tapi, jangan sampai hal ini menimbulkan kesyirikan. Misalkan benar, dia hanya sebagai perantara dan kesembuhan hanya dari Allah semata,'' ujar Nafis.

Hal yang sama juga dikatakan Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur H Syafiq A. Mughni. Masyarakat harus kritis dan jangan mudah percaya dengan kabar atau isu. ''Saya tidak tahu apakah bisa dibuktikan kemujarabannya. Sebab, sering itu hanya disampaikan dari mulut ke mulut sehingga selalu ada bias dari kenyataan yang sebenarnya,'' tuturnya.

Syafiq khawatir ada yang sengaja memanfaatkan masalah itu dan semata-mata hanya untuk mencari keuntungan. ''Bisa jadi ada orang yang memanfaatkan, tapi saya nggak tahu siapa. Bagi Muhammadiyah, kejadian ini asing atau aneh. Itu tergolong khurafat atau cerita yang tidak jelas sumbernya dan tidak bisa diyakini kebenarannya,'' katanya.(doy/yr/jpnn/kim)
  Berita Utama
[ Rabu, 11 Februari 2009 ]
Benarkah mereka yang minum air yang dicelupi batu milik dukun cilik Ponari bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya? Pertanyaan itu masih kerap muncul di benak beberapa masyarakat. Apalagi, sejak fenomena Ponari membuat Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Megaluh, Jombang, Jatim, dipenuhi pengunjung yang mayoritas orang sakit.

Radar Mojokerto (Jawa Pos Group) yang blusukan ke antrean "pasien" Ponari seminggu terakhir menemukan, memang tidak sedikit orang yang mengaku sembuh setelah meminum air yang dicelup batu milik Ponari. Namun, banyak juga yang mengaku tak ada perubahan.

Seperti pengakuan Musali, 60, warga Ngoro, Jombang. ''Sudah lima tahun saya lumpuh total. Tetapi, setelah meminum air dari Ponari, saya bisa berjalan kembali. Bahkan, saya mengantre sendiri untuk mendapatkan pengobatan kedua," ungkap Musali saat bertemu Radar Mojokerto di dalam antrean menuju tempat praktik Ponari, beberapa waktu lalu.

Hal yang sama diungkapkan Sumardi, 58, warga Bojonegoro. Kemarin Sumardi kembali mendatangi lokasi praktik Ponari meski sudah ada pengumuman ditutup. Sumardi mengaku, sejak setahun terakhir dirinya menderita stroke. Untuk berjalan saja dia sangat kesulitan. Tapi, setelah mendapatkan air yang dicelupi batu Ponari seminggu lalu, Sumardi mengaku kuat berjalan kembali. Untuk itu, dia kembali datang bersama sanak keluarga yang menderita sakit. ''Saya kira Ponari memang diberi kelebihan oleh Tuhan," ungkap Sumardi yang datang bersama Rudi, 30, keponakannya.

Sama halnya dengan yang dialami Haji Nawawi asal Jombang. Nawawi mengaku sembuh dari penyakit linu tulang yang sudah tiga tahun dideritanya. Selama tiga tahun itu, Nawawi sudah keluar masuk ruang dokter dan rumah sakit. Termasuk menjalani rontgen lima kali. Oleh dokter, Nawawi didiagnosis menderita penyakit pengeroposan tulang (osteoporosis). Namun, dari berbagai obat yang ditelannya, tetap saja tidak membuat Nawawi sembuh. Setelah mengonsumsi air yang dicelupi batu Ponari, dia mengaku penyakitnya langsung hilang. ''Saya bisa main tenis sampai dua set. Sakit itu tidak pernah saya rasakan lagi," ungkapnya.

Nawawi bahkan membantah jika kesembuhannya hanya sugesti. Sebab, selama berobat ke dokter dan rumah sakit, dia juga terus memiliki sugesti akan sembuh. Tetapi, pada kenyataannya, dia tetap saja merasakan sakit. 

Selain cerita "sukses" itu, banyak juga orang yang mengaku tidak ada perubahan setelah meminum air dari Ponari. Antara lain Ismail Marzuki, 55, warga Desa Sawiji, Jogoroto, Jombang, yang menderita batuk menahun dan penyakit asam urat. Ketika meminum air dari Ponari itu, dia mengaku telah memiliki keyakinan untuk sembuh. Sayangnya, hingga dua minggu kemudian, tetap tidak ada perubahan. 

Begitu pula Khomsatun, 52, warga Jombang, yang menderita ngilu persendian. ''Saya percaya jika Ponari memiliki kelebihan. Tetapi setelah meminum air itu, penyakit saya tetap tidak sembuh," ungkap Khomsatun.

Selain itu, dua warga Dusun Kedungsari, Jombang, yang menderita gangguan jiwa, juga tidak sembuh setelah meminum air dari Ponari. Keduanya adalah Luluk Jamilah, 30, dan Sutomo, 28, yang sebelumnya sudah dimintakan air oleh keluarganya. 

Sutomo yang selama ini tinggal di rumah gedek kecil bersama saudaranya, diketahui belum ada perubahan. Satini, tetangga dekat Tomo, mengaku masih mendengar pria itu berteriak-teriak, seperti sebelum pengobatan. Sedangkan Jamil, ayah Luluk, mengatakan, sempat ada perubahan sehari setelah putrinya meminum air tersebut. 

Luluk yang sebelumnya selalu mengurung diri, mendadak mengajak ayahnya berjalan-jalan keluar rumah. Dia juga menyapa para tetangga, layaknya gadis normal. Namun, perubahan itu hanya berlangsung sehari. ''Keesokan harinya hingga kini, anak saya kembali seperti semula," ungkap Jamil.

Amal Setengah Miliar 

Selain keampuhan pengobatannya, fenomena dukun cilik Ponari memunculkan rasa penasaran apakah pengobatan itu dijadikan lahan bisnis, yang bisa berimbas pada eksploitasi bocah yang masih kelas III SD itu. 

Meski tidak memungut biaya sepeser pun, terlihat panitia yang terdiri atas keluarga dan warga setempat menyediakan kotak amal tepat di depan rumah orang tua Ponari. Menurut salah satu warga, belum satu bulan, kotak amal itu sudah menghasilkan uang lebih dari Rp 300 juta. ''Saya sendiri ikut menghitung. Jumlahnya kurang lebih Rp 328 juta," ungkap Mbah Senen, tokoh desa setempat, yang ikut ''mengelola" keuangan di tempat praktik Ponari.

Penuturan Mbah Senen itu bukanlah mustahil. Bahkan, jumlah uang yang masuk ke kotak amal itu jauh lebih besar. Dengan asumsi praktik dukun Ponari 10 hari saja, uang yang dikumpulkan dari kotak amal bisa mencapai setengah miliar rupiah. 

Perhitungan kasarnya, setiap hari pengunjung praktik Ponari bisa mencapai 10 ribu orang. Jika setiap pengunjung rata-rata mengamalkan Rp 5 ribu saja, setiap hari sudah terkumpul Rp 50 juta. Dengan perhitungan pemotongan hari praktik karena libur dan penutupan sementara oleh polisi, jika dikalikan sepuluh hari, uang di kotak amal itu bisa mencapai Rp 500 juta alias setengah miliar rupiah. 

Memang, ada biaya memasak makanan untuk seluruh panitia dan petugas pengamanan. Tetapi, jumlahnya tidak seberapa, hanya Rp 200 ribu sampai 300 ribu per hari. ''Uang dari kotak amal itu sepenuhnya hak Ponari dan keluarga. Tidak ada orang lain yang berhak atas uang tersebut," ujar Mbah Senen seraya menambahkan bahwa dia sendirilah yang menyimpan uang tersebut ke salah satu bank di Jombang. (doy/yr/jpnn/kim)