Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blog Design :
Silahkan Download

Powered by Blogger

BISNIS PULSA dengan banyak keuntungan. 100% Dijamin UNTUNG. klik DISINI" ...!!

[ Rabu, 03 Juni 2009 ]
RIO DE JANEIRO - Setelah melakukan pencarian intensif, petugas penyelamat akhirnya menemukan puing-puing pesawat Air France nomor penerbangan AF 440 yang hilang Minggu malam (31/5) atau Senin dini hari WIB (1/6).

Pilot pesawat militer Brazil melihat puing-puing dari udara sekitar 410 mil (650 km) sebelah utara Pulau Fernando de Noronha kemarin siang atau tadi malam WIB (2/6). Lokasi ini termasuk jalur yang diterbangi pesawat dengan 216 penumpang dan 12 awak tersebut.

Pilot melihat kursi pesawat, pelampung, pecahan logam, dan bekas bahan bakar di tengah Samudera Atlantik. Benda-benda itu berserakan secara terpisah dalam jarak 35 mil (60 km) setelah pilot melihat dua kali. ''Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tapi, lokasi penemuan tersebut tepat dengan lokasi sinyal terakhir ketika pesawat hilang,'' kata Jorge Amaral, Jubir AU Brazil.

Berdasar penemuan lokasi puing-puing tersebut, Amaral menduga pesawat Air France mungkin mencoba membelok untuk kembali ke Fernando de Noronha. ''Tapi, itu baru hipotesis kami,'' ujarnya.

Dia menyebut, pihak berwenang belum dapat memberikan konfirmasi apakah puing-puing tersebut berasal dari pesawat Air France sebelum mengangkatnya dari laut dan mengidentifikasinya. Kapal militer Brazil diperkirakan baru tiba di lokasi tersebut hari ini (3/6).

Penemuan puing-puing itu terjadi lebih dari 24 jam setelah pesawat yang terbang dari Rio de Janeiro menuju Paris tersebut hilang. Pesawat Airbus A330 berumur empat tahun itu kali terakhir terpantau radar pukul 22.14 Minggu. Seluruh penumpang dan awak diperkirakan tewas. 

Berdasar manifest, di antara penumpang pesawat, terdapat 61 warga Prancis, 58 warga Brazil, 26 warga Jerman, sembilan Tiongkok, dan sembilan orang asal Italia. Juga tercatat penumpang dari 27 negara lain, termasuk dua warga Amerika (AS).

Sebelumnya, maskapai terbesar di Brazil, TAM, melaporkan bahwa pilotnya melihat titik oranye yang diduga api atau tanda-tanda kebakaran di sepanjang laut sesuai rute penerbangan Air France AF 440. Tanda-tanda tersebut terlihat saat pilot TAM terbang dari Paris menuju Rio de Janeiro Senin. Laporan ini lantas ditindaklanjuti AU Brazil dengan mengerahkan pesawat militer ke lokasi.

Namun, AU Brazil juga menyatakan, kapal dagang Prancis, Douce France, telah melakukan pencarian di lokasi kebakaran yang dilaporkan pilot TAM. Saat itu kapal tersebut mengaku tidak menemukan jejak-jejak pesawat.

Hingga kemarin upaya pencarian terus dilakukan. Bahkan, petugas penyelamat memperluas penyisiran laut, mulai perairan timur laut Brazil sampai Afrika Barat.

Para penyelidik, termasuk dari Prancis, juga terus berupaya mencari tahu penyebab jatuhnya pesawat. Selain terkena turbulensi kencang, ada dugaan pesawat dihantam petir. Tak lupa dikaji kemungkinan penyebabnya kombinasi berbagai faktor.

Direktur Komunikasi Air France Francois Brouse semula memperkirakan pesawat tersambar petir dan mengalami gangguan listrik. ''Ketika itu pesawat terbang di tengah badai dan terkena turbulensi hebat di atas Samudera Atlantik,'' ujarnya.

Para pakar pesawat tidak menampik kemungkinan pesawat dihantam petir. Tapi, mereka juga menyebut bahwa petir tidak mungkin menjadi penyebab tunggal jatuhnya pesawat di laut. ''Petir bisa menyebabkan masalah mekanis, tapi pesawat biasanya masih dapat terbang,'' kata Vincent Fave, penyelidik kecelakaan pesawat, kepada AFP.

Yves Deshayes dari Serikat Pilot Maskapai Prancis (SNPL) membenarkan bahwa sambaran petir dapat merusak sistem navigasi atau komunikasi pesawat. ''Tapi, biasanya pesawat memiliki sistem ganda atau lipat tiga. Jadi, jarang hantaman petir mengancam keamanan penerbangan maupun kondisi pesawat,'' katanya.

David Learmount dari majalah Flight International, menyebut bahwa pesawat sengaja dirancang agar selamat dari hantaman petir. ''Tapi, hilangnya pesawat Air France ini justru mengingatkan bahwa tak ada yang mustahil meski sebelumnya tak terpikirkan,'' katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, tercatat sedikitnya dua kasus kecelakaan pesawat yang diyakini akibat tersambar petir. Pada 22 Juni 2000, sebuah pesawat milik maskapai Tiongkok, Wuhan Airlines, jatuh setelah terkena petir saat mendekati Bandara Wuhan. Sebanyak 42 penumpang dan awak pesawat serta tujuh orang di darat tewas. Petir juga diduga menjadi penyebab jatuhnya Boeing 737-800 milik Kenyan Airways saat terbang dari Abidjan, Pantai Gading, menuju Douala, Kamerun, pada 5 Mei 2007. Saat itu 114 orang tewas. (AP/AFP/RTR/dwi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar