[ Kamis, 19 Februari 2009 ]
MUARA ENIM - Niat mulia rombongan suster untuk melayat ke salah satu rekan yang ayahnya meninggal dunia berakhir memilukan. Mobil Kijang kapsul 1997 warna merah nopol T 1756 DC yang mengangkut rombongan sembilan suster biarawati Rumah Sakit Charitas, Palembang, itu terjun ke Sungai Lubai di Muaraenim, Sumatera Selatan (Sumsel) yang sedang berarus deras kemarin pagi sekitar pukul 06.00.
Palembang Pos (Jawa Pos Group) melaporkan, mobil Kijang dan seluruh penumpangnya langsung tenggelam di sungai sedalam 6 meter itu. Delapan suster dan sopirnya tewas di lokasi kejadian. Sedangkan seorang suster bernama Silvetra kritis dan dirawat di RSU Kota Prabumulih sebelum dirujuk ke RS Charitas, Palembang.
Berdasar data dari RS Charitas, delapan suster yang tewas adalah Suster Yose, Suster Avrela, Suster Epila, Suster Germanda, Suster Mariana, Suster Penita, Suster Benieta, dan Suster Lavrensiana. Sedangkan sopir yang tewas bernama Yanto, 34, warga Lebung Siarang, Palembang.
Para korban itu berhasil dievakuasi petugas Polantas Polres Muara Enim dibantu puluhan warga desa. Delapan korban yang ditemukan tewas dibawa ke Puskesmas Beringin, sekitar 500 meter dari lokasi kejadian.
Dua korban lainnya, Lavrensiana dan Silvivestra -karena saat dievakuasi dalam kondisi kritis- dibawa ke RS Kota Prabumulih untuk mendapatkan perawatan. Sayang, dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, nyawa Lavrensiana tidak tertolong. Sedangkan Silvivestra, meski kondisinya kritis, masih bisa bertahan dan langsung dirujuk ke RS Charitas.
Dokter Puspa dari Puskesmas Beringin yang sempat menangani delapan korban tewas mengatakan, para korban diduga meninggal akibat mengalami asfiksia karena tenggelam ke dasar sungai bersama mobilnya. ''Saat dibawa ke puskesmas, kondisi mulut dan hidung korban mengeluarkan busa karena lama terendam air,'' ujarnya. Korban yang mengalami luka di bagian tengkorak dan patah kaki hanya dua orang.
Berdasar informasi yang dihimpun, rombongan suster nahas itu berangkat dari RS Charitas, Palembang, saat hari masih gelap, sekitar pukul 04.30. Mereka menyewa mobil Kijang milik Muliadi, 38, karyawan administrasi RS Charitas dan dikemudikan Yanto, teman pemilik mobil.
Tujuan para suster itu adalah melayat orang tua Suster Benieta di Desa Banu Ayu, Martapura, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Suster Benieta juga ikut dalam mobil tersebut untuk melihat orang tuanya yang meninggal. Mobil yang dipenuhi sembilan suster itu kemudian melaju dari arah Kota Prabumulih menuju Baturaja, OKU. Dalam perjalanan, kondisi cuaca hujan gerimis dan jalanan basah.
Karena jalanan masih sepi, sopir memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Sesampai di lokasi kejadian, sopir diduga mengantuk sehingga tidak memperhatikan jalan yang menikung tajam ketika hendak masuk jembatan. Seharusnya belok, mobil Kijang itu justru melaju lurus dan bablas terjun dari jembatan yang tingginya sekitar 6,8 meter itu.
Mudahnya mobil terjun ke sungai itu juga disebabkan sejak beberapa bulan belakangan pagar jembatan rusak. Jembatan yang panjangnya 12 meter itu tidak berpagar lagi di kedua sisinya. Ketika ditemukan warga, posisi roda mobil berada di atas dan bagian atap tenggelam ke dasar sungai.
Jufri, 42, penduduk setempat yang rumahnya sekitar 50 meter dari lokasi kejadian, mengatakan, mereka mendengar suara keras saat kecelakaan tersebut. Tak berapa lama warga pun mengevakuasi dan melaporkan kejadian kepada aparat kepolisian. Mobil yang semula rodanya di atas dibalikkan kembali guna mengambil korban dari dalam mobil. Kemudian, mobil tersebut diikat warga agar tidak hanyut terseret derasnya arus air sungai. Setelah korban berhasil dievakuasi, mobil tersebut diangkat dengan menggunakan mobil derek.
Kasatlantas Polres Muara Enim AKP Ahmad Pardomuan di lokasi kejadian mengatakan, kecelakaan diduga sopir mengantuk dan berjalan dengan kecepatan tinggi. ''Menjelang masuk jembatan telah dipasang rambu-rambu karena kondisi jalan tersebut memang rawan kecelakaan. Namun, karena ngantuk, peringatan itu diabaikan,'' ujarnya. Penyebab lainnya, dinding jembatan rusak sehingga tidak ada yang menghambat mobil ketika terjun.
Petugas Jasa Raharja Muara Enim Roi Silalahi mengatakan, pihaknya secepatnya akan memberikan dana klaim santunan asuransi kepada korban yang meninggal dunia. Santunan tersebut akan diberikan paling lama tujuh hari sejak kejadian. Uang santunan korban meninggal dunia Rp 25 juta. Sedangkan korban yang mengalami luka berat mendapat santunan Rp 10 juta per orang. (luk/jpnn/kim)
Palembang Pos (Jawa Pos Group) melaporkan, mobil Kijang dan seluruh penumpangnya langsung tenggelam di sungai sedalam 6 meter itu. Delapan suster dan sopirnya tewas di lokasi kejadian. Sedangkan seorang suster bernama Silvetra kritis dan dirawat di RSU Kota Prabumulih sebelum dirujuk ke RS Charitas, Palembang.
Berdasar data dari RS Charitas, delapan suster yang tewas adalah Suster Yose, Suster Avrela, Suster Epila, Suster Germanda, Suster Mariana, Suster Penita, Suster Benieta, dan Suster Lavrensiana. Sedangkan sopir yang tewas bernama Yanto, 34, warga Lebung Siarang, Palembang.
Para korban itu berhasil dievakuasi petugas Polantas Polres Muara Enim dibantu puluhan warga desa. Delapan korban yang ditemukan tewas dibawa ke Puskesmas Beringin, sekitar 500 meter dari lokasi kejadian.
Dua korban lainnya, Lavrensiana dan Silvivestra -karena saat dievakuasi dalam kondisi kritis- dibawa ke RS Kota Prabumulih untuk mendapatkan perawatan. Sayang, dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, nyawa Lavrensiana tidak tertolong. Sedangkan Silvivestra, meski kondisinya kritis, masih bisa bertahan dan langsung dirujuk ke RS Charitas.
Dokter Puspa dari Puskesmas Beringin yang sempat menangani delapan korban tewas mengatakan, para korban diduga meninggal akibat mengalami asfiksia karena tenggelam ke dasar sungai bersama mobilnya. ''Saat dibawa ke puskesmas, kondisi mulut dan hidung korban mengeluarkan busa karena lama terendam air,'' ujarnya. Korban yang mengalami luka di bagian tengkorak dan patah kaki hanya dua orang.
Berdasar informasi yang dihimpun, rombongan suster nahas itu berangkat dari RS Charitas, Palembang, saat hari masih gelap, sekitar pukul 04.30. Mereka menyewa mobil Kijang milik Muliadi, 38, karyawan administrasi RS Charitas dan dikemudikan Yanto, teman pemilik mobil.
Tujuan para suster itu adalah melayat orang tua Suster Benieta di Desa Banu Ayu, Martapura, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Suster Benieta juga ikut dalam mobil tersebut untuk melihat orang tuanya yang meninggal. Mobil yang dipenuhi sembilan suster itu kemudian melaju dari arah Kota Prabumulih menuju Baturaja, OKU. Dalam perjalanan, kondisi cuaca hujan gerimis dan jalanan basah.
Karena jalanan masih sepi, sopir memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Sesampai di lokasi kejadian, sopir diduga mengantuk sehingga tidak memperhatikan jalan yang menikung tajam ketika hendak masuk jembatan. Seharusnya belok, mobil Kijang itu justru melaju lurus dan bablas terjun dari jembatan yang tingginya sekitar 6,8 meter itu.
Mudahnya mobil terjun ke sungai itu juga disebabkan sejak beberapa bulan belakangan pagar jembatan rusak. Jembatan yang panjangnya 12 meter itu tidak berpagar lagi di kedua sisinya. Ketika ditemukan warga, posisi roda mobil berada di atas dan bagian atap tenggelam ke dasar sungai.
Jufri, 42, penduduk setempat yang rumahnya sekitar 50 meter dari lokasi kejadian, mengatakan, mereka mendengar suara keras saat kecelakaan tersebut. Tak berapa lama warga pun mengevakuasi dan melaporkan kejadian kepada aparat kepolisian. Mobil yang semula rodanya di atas dibalikkan kembali guna mengambil korban dari dalam mobil. Kemudian, mobil tersebut diikat warga agar tidak hanyut terseret derasnya arus air sungai. Setelah korban berhasil dievakuasi, mobil tersebut diangkat dengan menggunakan mobil derek.
Kasatlantas Polres Muara Enim AKP Ahmad Pardomuan di lokasi kejadian mengatakan, kecelakaan diduga sopir mengantuk dan berjalan dengan kecepatan tinggi. ''Menjelang masuk jembatan telah dipasang rambu-rambu karena kondisi jalan tersebut memang rawan kecelakaan. Namun, karena ngantuk, peringatan itu diabaikan,'' ujarnya. Penyebab lainnya, dinding jembatan rusak sehingga tidak ada yang menghambat mobil ketika terjun.
Petugas Jasa Raharja Muara Enim Roi Silalahi mengatakan, pihaknya secepatnya akan memberikan dana klaim santunan asuransi kepada korban yang meninggal dunia. Santunan tersebut akan diberikan paling lama tujuh hari sejak kejadian. Uang santunan korban meninggal dunia Rp 25 juta. Sedangkan korban yang mengalami luka berat mendapat santunan Rp 10 juta per orang. (luk/jpnn/kim)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar