Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blog Design :
Silahkan Download

Powered by Blogger

BISNIS PULSA dengan banyak keuntungan. 100% Dijamin UNTUNG. klik DISINI" ...!!
SELASA, 26 MEI 2009 | 04:06 WIB
Asap membubung dari beberapa gedung saat seorang tentara Afghanistan (kiri) bersiaga di gedung pemerintah, provinsi Khost, sebelah timur ibukota Kabul. Beberapa tim pelaku bom bunuh diri melancarkan serangan ke beberapa gedung pemerintah provinsi Khost, 12 Mei 2009

PESHAWAR, KOMPAS.com - Komandan Taliban Maulana Fazlullah telah meminta gerilyawan berhenti memerangi pasukan Pakistan di ibu kota Lembah Swat di wilayah barat laut, kata seorang jurubicara Taliban, Senin (25/5).
       
Pasukan keamanan Pakistan mengebom posisi-posisi Taliban di tiga distrik di kawasan itu sejak akhir bulan lalu. Pada Sabtu lalu, pasukan itu bergerak memasuki Mingora, pusat bisnis dan pemerintahan di kawasan lembah yang memiliki pemandangan indah itu.
       
"Maulana Fazlullah telah memerintahkan semua mujahidinnya menghentikan perlawanan di Mingora dan sekitarnya untuk menghindari kesulitan masyarakat dan kerugian bagi penduduk sipil," kata juru bicara Muslim Khan.
       
"Sebagian besar mujahidin sudah meninggalkan Mingora," katanya melalui telepon dari sebuah lokasi yang dirahasiakan dengan hanya mengatakan bahwa ia menyampaikan pernyataan itu dari puncak gunung.
       
Khan menuduh militer membunuhi warga sipil dalam pertempuran sengit di distrik-distrik Lower Dir, Buner dan Swat tempat Taliban memasuki kota-kota dan pedesaan dalam upaya memberlakukan hukum Islam.
       
Pakistan menyatakan, hampir 1.160 militan dan 69 prajurit tewas dalam ofensif yang diluncurkan di distrik-distrik Lower Dir pada 26 April, Buner pada 18 April dan Swat pada 8 Mei, namun angka-angka itu tidak bisa dikonfirmasi secara independen.
       
Gelombang pertempuran di kawasan barat laut itu membuat 2,38 juta warga sipil yang panik meninggalkan rumah-rumah mereka, kata PBB mengutip angka pemerintah.
       
Swat, daerah dengan pemandangan indah yang dulu tempat tujuan wisata namun kemudian menjadi markas Taliban, dilanda pertempuran dalam beberapa waktu terakhir ini.
       
Perjanjian yang kontroversial antara pemerintah dan ulama garis keras pro-Taliban untuk memberlakukan hukum Islam di sebuah kawasan di Pakistan barat laut yang berpenduduk tiga juta orang seharusnya mengakhiri pemberontakan Taliban yang telah berlangsung hampir dua tahun.
       
Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani mendesak rakyat Pakistan bersatu melawan kelompok ekstrem, yang menurutnya mengancam kedaulatan negara itu dan yang melanggar perjanjian perdamaian tersebut dengan melancarkan serangan-serangan.
       
Jumlah orang yang terpaksa pergi menyelamatkan diri dari pertempuran di Pakistan barat laut sejak Agustus 2008 telah melampui dua juta, kata badan pengungsi PBB.
       
Jumlah itu mencakup 1,45 juta orang yang tercatat sebagai pengungsi selama ofensif militer Pakistan terhadap militan sejak 2 Mei, dan 553.916 orang lagi yang menyelamatkan diri dari pertempuran, kata badan pengungsi PBB dalam sebuah pernyataan.
       
Kawasan suku Pakistan dilanda kekerasan sejak ratusan Taliban dan gerilyawan Al-Qaeda melarikan diri ke wilayah itu setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah Taliban di Afghanistan.
       
Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan Pakistan itu digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.
       
Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah barat laut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan internasional di Afganistan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar